Kategori
Saran Start-Up

Maraknya Belanja Online di Indonesia

Sudah lebih dari satu tahun masyarakat Indonesia melakukan gerakan social distancing untuk mencegah penularan Covid-19. Pemerintah mengimbau masyarakat senantiasa memakai masker, menjaga jarak, rajin mencuci tangan, mengurangi mobilitas dan menghindari kerumunan. Merespon imbauan pemerintah, banyak perusahaan menerapkan kebijakan bekerja dari rumah (work from home). Lembaga-lembaga pendidikan pun menerapkan skema pembelajaran online.

Meningkatnya popularitas belanja online, khususnya belanja kebutuhan rumah tangga secara online, dipicu oleh pandemi Covid-19 dan pemberlakuan pembatasan sosial secara besar-besaran.  Fenomena itu diprakirakan akan mendorong pertumbuhan sektor e-commerceIndonesia. Survei oleh firma konsultan manajemen Redseer pada Agustus 2020 menemukan bahwa lebih dari separuh responden Indonesia mengatakan bahwa pengeluaran mereka untuk platform e-grocery meningkat selama pandemic. Lalu, sebanyak 60% responden menegaskan bahwa di masa mendatang mereka akan terus membeli bahan makanan secara online (thejakartapost. com).

Di Indonesia, penetrasi belanja online masih dominan di kawasan Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek). Itu membuat potensi belanja online di Indonesia sebetulnya masih sangat besar. Institute of Grocery Distribution (IGD) Asia menyatakan bahwa nilai pasar grosir online akan tumbuh 198% dari US$99 miliar pada 2019 menjadi US$295 miliar di tahun 2023. Asia Tenggara diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan tercepat, meski dari sisi nilainya tidak sebesar di Jepang, Korea Selatan dan China. Pasar di India dan Indonesia juga akan semakin penting bagi para pebisnis karena skalanya (dailysocial.id).

Pada tahun 2020, tampaknya bisnis grosir online akan mengalami peningkatan pengguna yang cukup tinggi. Pandemi Covid-19 membuat masyarakat mulai kian sering memanfaatkan layanan ini, karena ada seruan untuk tidak bepergian ke luar rumah. Benar saja, saat ini ada banyak stok produk di platform belanja online yang kosong. Antrian pengiriman juga menumpuk, sehingga pesanan tidak bisa terkirim pada hari yang sama. Poin pentingnya adalah terjadi peningkatan kesadaran di kalangan konsumen Indonesia.

Tapi, Anda tidak boleh lengah, karena transaksi e-commerce untuk kategori grosir juga mulai meningkat, seperti strategi Lazada setelah akuisisi RedMart. Perusahaan lokal lainnya sudah mulai menunjukkan tanda-tanda yang sama. Misalnya, yang dilakukan Blibli lewat Blibli Mart dengan menghadirkan konsep O2O dalam menjual kebutuhan sehari-hari. Hal serupa juga dilakukan JD.id (id.techinasia.com).

Toko grosir online akan memiliki masa depan yang cerah, di tengah kebiasaan masyarakat yang semakin digital, serta konsolidasi dan platform ritel yang lebih baik. Ini dalam konteks kawasan Jabodetabek. Selain itu, masih banyak pekerjaan rumah yang harus divalidasi, karena pada dasarnya apa yang ditawarkan oleh startup ini sedang mengubah budaya masyarakat, khususnya di kalangan ibu-ibu rumah tangga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: